Friday, November 22, 2013

Mahasiswa Internasional UB Berprestasi di ISS 2013

Mahasiswa Myanmar menjadi delegasi UB pada ISS 2013


Mahasiswa Myanmar menjadi delegasi UB pada ISS 2013


Mahasiswa internasional Universitas Brawijaya (UB) turut berpartisipasi dan bahkan meraih prestasi dalam ajang International Student Summit (ISS) 2013. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Ditjen Pendidikan Tinggi di Universitas Padjadjaran Bandung selama empat hari (14-17/11). Tiga orang delegasi dari UB adalah Zaw Myo Aung (Pendidikan Dokter/2010), Yamin Htet (Pendidikan Dokter/2010) dan Suu Myat Noe Htwe (Pendidikan Dokter/2010). Ketiganya adalah mahasiswa asal Myanmar yang mendapat dukungan beasiswa dari Islamic Development Bank (IDB) selama menempuh studi.

Forum Mahasiswa Internasional (ISS)  yang digelar rutin tiap tahun diharap mampu mendorong peran mahasiswa asing di perguruan tinggi Indonesia untuk lebih mendalami budaya dan bahasa Indonesia serta berkontribusi dalam memperkenalkan perguruan tinggi Indonesia di dunia internasional khususnya negara asal mereka. Tema yang diangkat pada tahun kedua kali ini mengenai peranan mahasiswa asing dalam memperkenalkan bahasa Indonesia di dunia internasional. Tema ini diharap dapat menanamkan penguasaan bahasa Indonesia kepada mahasiswa asing sehingga tumbuh kecintaan dan persaudaraan yang erat dengan Indonesia dan memberikan kesan positif terhadap bangsa dan bahasa Indonesia.

Aneka kegiatan yang terangkum dalam ISS meliputi Pertemuan II Mahasiswa Asing di Indonesia, Lomba Menulis Esai (dalam bahasa Indonesia), lomba debat dalam bahasa Indonesia, pertunjukan kesenian, wisata, pertemuan organisasi Indonesia International Student Association (IISA) dan pemilihan Presiden. Kegiatan ini diikuti oleh 32 perguruan tinggi di Indonesia seperti UGM, UB, UI,UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Kristen Satya Wacana. Mereka berasal dari berbagai belahan dunia meliputi Asia, Eropa, Amerika, Afrika, Amerika Latin dan Australia.

Dalam lomba debat, tiga orang delegasi UB tersebut membentuk satu tim yang pro terhadap isu "Degradasi Etika dan Budi Bahasa Masyarakat Indonesia Terutama Yang berada di Wilayah Perkotaan". Ini merupakan salah satu dari tujuh isu yang diajukan panitia. Tim yang kontra terhadap isu ini berasal dari Universitas Negeri Malang. Pada argumentasi pro-nya, Zaw Myo Aung menjelaskan, "sebagian besar masyarakat perkotaan harus berpacu dengan waktu tetapi tetap harus melawan realitas". Pada lomba debat kali ini, group UM unggul atas UB dengan raihan poin 79%-72%. "Kebanyakan diantara peserta adalah mahasiswa ilmu budaya yang memiliki kemampuan bahasa Indonesia lebih kuat," ungkap Suu Myat Noe Htwe. Sementara ia dan teman-temannya adalah mahasiswa kedokteran, yang belajar bahasa Indonesia secara intensif 3 bulan saja pada awal perkuliahan dan selanjutnya autodidak.

Pada lomba essay, panitia menyodorkan 2 tema yakni "Orang Indonesia Toleran terhadap Berbagai Hak" dan "Bahasa Indonesia Sudah Layak Menjadi Bahasa Internasional". Zaw Myo Aung dan Suu Myat Noe Htwe memilih tema pertama sedangkan Yamin Htet memilih tema kedua. Pada karya esai-nya Zaw Myo Aung mengaku menuangkan ide dari pengamatannya terhadap kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada tiga poin penilaian pada lomba ini yaitu pengembangan ide/gagasan, sistematika penulisan dan penggunaan bahasa yang meliputi kosakata, bentukan kata dan struktur kalimat. Terhadap hasil karyanya, Yamin Htet meraih juara III sementara Suu Myat Noe meraih juara favorit.

"Kebudayaan Indonesia khususnya Sunda tidak terlalu jauh berbeda dengan budaya Myanmar," ungkap ketiga mahasiswa. Hal ini sempat ia lihat saat pertunjukan seni, dimana mereka sempat main angklung dan menonton pertunjukan wayang golek. Disebutkannya, permainan tradisional gobak sodor di Indonesia, mirip dengan permainan tradisional Myanmar yang disebut Htoke-See Htoe. Selain itu, makanan tradisional seperti jajanan pasar juga banyak yang mirip dengan Myanmar.

Dalam keterangannya, Direktur International Office, Prof. Dr. Ir. Ifar Subagiyo menyampaikan bahwa setiap mahasiswa baru mendapatkan kursus bahasa Indonesia intensif selama 3 bulan di Pusat Bahasa UB. Selain itu, bahasa Indonesia juga menjadi mata kuliah dengan muatan sebanyak 2 SKS. Untuk sebaran mahasiswa internasional, menurutnya FK menduduki posisi tertinggi disusul FEB, FIA, FT, FP dan FTP.

Courtesy : Prasetya Online

Share this

0 Comment to "Mahasiswa Internasional UB Berprestasi di ISS 2013"

Post a Comment