Wednesday, December 11, 2013

Melihat Mandela, Melihat Perdamaian

nelson--mandela-131106b

Saat menjadi seorang pejuang di era tahun 80-an, Samuel Nojuma atau akrab dipangil Sam Nojuma sangat kesal jika ditanya apa latar belakang pendidikannya sehingga ia mau memimpin Namibia, sebuah negara di wilayah bagian Selatan benua Afrika.

Sam Nojuma yang hanya lulusan sekolah menengah menegaskan baginya tidak ada waktu untuk sekolah karena kesehariannya digunakan untuk memimpin SWAPO (South West African People Organitation ) sebuah sayap perlawanan terhadap pemerintah Namibia (yang saat itu disebut sebagai wilayah) yang dikuasai oleh regim Apartheid di Afrika Selatan.

Sam Nojuma akhirnya menjadi Presiden di Namibia pada Maret 1990 atau satu bulan setelah Nelson Mandela dibebaskan dari tahanan. Mandela yang ditahan sekitar 28 tahun oleh regim Apartheid menjadi salah satu saksi dari naiknya Sam Nojuma. Sebenarnya naiknya Sam Nojuma menjadi orang nomor satu di Namibia tidak lepas dari perhitungan regim Pretoria bahwa Nelson Mandela kelak akan memimpin Afrika Selatan. Prestoria ingin melihat apakah dibawah pimpinan Sam Nojuma orang-orang kulit putih di negara itu akan terlindungi.

Perhitungan regim Apartheid ternyata benar, dalam waktu 4 tahun, April 1994 Nelson Mandela menjadi Presiden Afrika Selatan mengantikan FW De Klerk. Selama bebas, pesan yang selalu di dengung-dengungkan oleh Mandela adalah perdamaian dan memberikan maaf pada orang lain. Hal ini penting sebab regim Apartheid "di duga" telah melakukan kerjasama dengan suku Inkhata yang dipimpin oleh Mangosuthu Buthelezi. Jika ini terjadi Mandela khawatir akan terjadi perpecahan di tengah rakyat Afrika Selatan, sebab Inkhata termasuk suku yang besar di Afrika Selatan dan Buthzlezi sendiri adalah mantan ketua pemuda ANC dimana Mandela pernah menjadi pemimpinnya.

Meski menang mayoritas, namun Mandela pada awal pemerintahannya tetap memakai FW De Klerk sebagai wakil presidennya. Ini menunjukan sikapnya yang tulus terhadap perdamaian. Kemenangan Mandela dalam pemilu itu bukan saja karena secara mayoritas warga Afrika Selatan berkulit hitam, tapi juga sikap Mandela saat berdebat dengan De Klerk saat pemilu. Meski De Klerk tampil sangat meyakinkan mengunguli Mandela namun diakhir perdebatan itu, Mandela mengulurkan tangan pada De Klerk, suatu hal yang diluar prakiraan banyak orang. Dalam kasus ini Mandela dianggap memangkan pemilihan perdebatan.

Mandela hanya ingin menjadi Presiden satu periode untuk Afrika Selatan. Selebihnya ia menjadi duta perdamaian untuk negara-negara yang berkonflik khususnya di Afrika. Perubahan sikap Mandela yang pada waktu muda melawan regim Apartheid dengan kekerasan ke sikap untuk mencari perdamaian nampaknya tidak lepas dari pengalamannya di perjara. Selama hampir tiga dasarwarsa di penjara di tiga tempat yang berbeda, Mandela selalu diperhadapkan pada satu syarat pembebasannya, ANC harus dibubarkan. Mandela berpendapat membubarkan ANC justru memperburuk keadaan di Afrika Selatan. Ia menjamin ANC tidak akan pernah mengangkat senjata jika perlakuan rejim kulit putih pada warga kulit hitam dan berwarna lainnya tidak lagi diwarnai kekerasan. Jadi kata anti kekerasan inilah yang akhirnya menjadi titik equlibrium dari kedua pihak yang berujung pada pembebasan Mandela.

Kini Mandela sudah bebas sebebas bebasnya. Menuju satu dunia yang baru, yang pernuh dengan perdamaian. ****

Raymond Kaya, Mahasiswa Magister Komunikasi Universitas Mercu Buana, Wartawan SCTV.

Courtesy : Liputan6 News

Share this

0 Comment to "Melihat Mandela, Melihat Perdamaian"

Post a Comment