Wednesday, December 18, 2013

Steve Jobs, dan Mengenang Kebijaksanaannya

Jobs

Steve Jobs, sang jenius dunia yang sudah tak lagi hidup di dunia. Berbagai karya hasil dari kejeniusannya lah yang membuat namanya tetap hidup di dunia, dikenal oleh banyak orang, dan bahkan menjadi inspirasi berbagai penduduk Bumi. Dari seorang jenius, tentunya banyak hal yang dapat dipelajari dari yang telah dikerjakannya. Meski ia sudah lama meninggal dunia. Dan ini adalah cerita tentang hal-hal yang dapat dipelajari dari kehidupan sang Thomas Alfa Edison masa kini; Steven Paul Jobs. Dikutip dari berbagai sumber.



Jangan Menunggu

Jobs muda, selalu tak sabar dengan hal-hal menggairahkan yang ia lakukan. Saat ia masih merintis komputer Apple pertama kali, dan ia tak memiliki kecukupan untuk membuatnya, Jobs akan mencari cara untuk membuat hal menjadi nyata lewat sumbernya. Masa itu Jobs mencari Bill Hewlett, penemu dari Hewleet Packard (HP), di buku telefon, dan menelponnya untuk meminta bantuan.

Jadi Diri Sendiri

Jobs selalu sibuk untuk menjadi dirinya sendiri. Dan tak pernah sekalipun meniru untuk menjadi orang lain, bahkan terpikirkan saja tidak. Malah kebalikan, orang-orang lah yang ingin menjadi sepertinya, meniru karya-karyanya. Dikatakan oleh Mike Markkula, pimpinan Apple pertama kali, Jobs terkadang merendam sepatunya yang kotor di toilet agar tak terlihat kotor saat rapat. "Belum tentu kami mau melakukan hal seperti itu," kata Markkula.

Eksplorasi Keajaiban

Jobs adalah pengelana. Ia adalah pengelana ilmu pengetahuan yang selalu lapar akan keingintahuan, dan selalu menganggap dirinya bodoh. Seperti empat kata singkat yang menggema tiada henti hingga hari ini, "Tetap lapar, dan tetap bodoh." Terus lapar agar selalu menginginkan pengetahuna, dan tetap bodoh agar terus belajar.

Kepung Diri Sendiri dengan Ilmu

Setelah Jobs mendapatkan kesuksesan di Apple, ia selaiknya sudah tak perlu melakukan hal apapun lagi. Hanya perlu menelurkan ide-ide untuk dieksekusi karena ia pun seorang CEO. Tapi nyatanya tidak, ia tetap bergelut untuk melakukan percobaan. Dengan berbagai ahli lain di sekelilingnya. Para ahli itu adalah ilmu yang berjalan dan hidup.

Ikuti Kesuksesan dengan Kesuksesan

Pria dengan nama lengkap Steven Paul Jobs ini pernah keluar dari Apple. Ia memilih bekerja sendiri dan membangun perusahaan sendiri, meski pada masanya di Apple pun tak buruk. Namun ia membuktikan bahwa dirinya tetap bisa menjadi hebat dengan mebuat Pixar, perusahaan produksi film animasi yang tak kalah berkualitas dari Disney.

Derma Kebijaksanaan

Pada awalnya Jobs bukanlah orang yang gemar berderma. Ia memutuskan bahwa dirinya adalah seorang pebisnis yang memproduksi barang-barang teknologi, dan tak ingin para rivalnya menyaingi. Namun itu semua berubah ketika ia menderita kanker parah. Jobs mulai berpikir untuk membagikan segala ilmunya pada generasi-generasi muda seperti Zuckerberg, pendiri Facebook. "Saya berharap saya bisa melanjutkan pekerjaan dengan Mark Zuckerberg. Itulah alasan mengapa selama ini saya menghabiskan waktu untuk semua tentang teknologi. Saya ingin generasi selanjutnya meneruskan tradisi yang sudah terjadi. Saya harus melakukan yang terbaik untuk membalas semua hutang budi," kata Jobs sebelum ia meninggal.

Hidup untuk Hari Ini

Bahkan ketika Steve Jobs sedang berjuang melawan kanker yang dideritanya, ia tetap melakukan hal-hal yang bisa ia kerjakan untuk hari itu. Bahkan penyakitnya malah dijadikan sebagai alasan untuk tetap fokus bekerja. "Jika mengingat bahwa saya akan mati dalam waktu dekat, itu adalah alasan penting bagi saya untuk membuat keputusan besar selama hidup saya," kata Jobs dalam kutipannya. Ia juga mengatakan, "Mengingat hal tentang kematian dirimu adalah cara terbaik untuk menghindari jebakan yang membuatmu berpikir kau kehilangan sesuatu dalam hidup. Kau sudah telanjang. Tak ada lagi alasan untuk mengikuti apa kata hatimu."

Courtesy : Okezone

Share this

0 Comment to "Steve Jobs, dan Mengenang Kebijaksanaannya"

Post a Comment